Koprol
Saya mungkin agak telat tau tentang hal – hal baru di ranah maya. Khususnya dalam perkembangan situs baru.
Hari ini saya mendaftarkan akun di situs jejaring sosial bernama koprol. Ketika mendengar kata koprol saya teringat pada olahraga pada jaman esde dulu. Jungkir balik. Konon kata koprol berasal dari bahasa Belanda. Kop artinya kepala, rol artinya berputar.
Koprol merupakan situs jejaring sosial buatan Indonesia yang diakuisisi oleh Yahoo.
Lalu apa bedanya dengan situs sejenis?. Ah kurang lebih sama. Bedanya hanya situs ini berbasis tempat. Lengkap dengan Google Map.
Apple juga juga membuat jejaring sosial bernama ping. Berbasis musik dan terintegrasi dengan iTunes 10. Layaknya fesbuk atawa Twitter, pengguna pun bisa mem-follow teman-teman ataupun artis idola mereka. Mengikuti, mendengarkan dan mengunduh lagu yang sedang dibicarakan itu. Ping sudah built-in di piranti keluarga apple semacam iPhone dan iPod touch.
Semakin banyak saja situs seperti ini. Mungkin sekarang adalah era bersosialita di ranah maya.
Musik Legal Itu
Internet memungkinkan kita melakukan banyak aktivitas. Jejaring sosial (facebook, twitter, dll),informasi maupun konten multimedia.
Konten multimedia, semacam lagu dan video dengan berbagai format semakin mudah didapatkan. Lagu, dari yang paling jadul sampai yang paling baru tersedia baik secara gratis maupun berbayar. Website berbagi berkas (file sharing) seperti 4shared, ziddu atau rapidshare menyediakan berbagai jenis musik secara gratis. Gratis belum tentu legal.
Sebenarnya ada banyak situs di Indonesia yang menyediakan lagu dengan format mp3 secara legal. Operator telepon Telkomsel punya Langit Musik. Indosat punya Arena Musik.
Langit musik menyediakan berbagai macam gender musik. Walaupun saat ini belum menyediakan gender pop Bali. Saya coba mencari lagu dari AA Raka Sidan dengan judul Plaibang Timpal tidak ada.
Menurut saya, cara penjualan lagu seperti ini cukup baik. Baik buat artis. Baik buat industri musik. Lebih daripada memasang tulisan ”Stop Pembajakan” seperti pada video klip di balitv itu.
Open Source di Instansi Pemerintah(Kabupaten).
Wacana mengenai pengimplementasian perangkat lunak open source di lingkup instansi pemerintah sudah dihembuskan. Tepatnya sejak dideklarasikannya program nasional “Indonesia Go Open Source” pada 30 Juni 2004 oleh oleh 5 Kementerian/Departemen. Diikuti dengan dikeluarkannya Surat Edaran Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Nomor: SE/OI/M.PAN/03/2009, tanggal 30 Maret 2010, tentang Pemanfaatan Perangkat Lunak dan Open Source Software (OSS). Kemudian yang terbaru , Menpan juga mengeluarkan Surat Edaran Nomor : B/ 15491M.PAN-RB/07/2010 perihal Perihal : Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS)
Pemanfaatan perangkat lunak legal dengan kode terbuka ini sudah banyak digunakan oleh instansi pemerintah kota/kabupaten di Indonesia dan di Bali khususnya.
Saya sendiri di kantor sudah cukup lama menggunakan software open source untuk aplikasi perkantoran. Saat ini saya menggunakan linux Ubuntu 10.04 yang konon mudah digunakan itu . Saya nyaman dengan Ubuntu. Tidak ada masalah.
Sebenarnya untuk kegiatan perkantoran umumnya, seperti pengolahan kata dan berbagai aktivitas internet, linux sudah sangat mumpuni dalam mengerjakannya. Bahkan dalam beberapa hal lebih baik daripada peranti lunak proprietary (sumber kode tertutup) dan berbayar. Masalah security misalnya.
Kendala paling besar dalam hal migrasi ke open source pada instansi pemerintahan adalah mindset dan kebijakan. Kita terlalu terbiasa dengan produk dari Bill Gates dan menganggap kalau open source itu sulit penggunaannya. Linux atau Ubuntu sekarang tidak berbeda jauh berbeda dengan windows.
Kelebihan dari perangkat lunak dengan kode terbuka ini adalah kita bisa memodifikasi berbagai aplikasi sesuai dengan kebutuhan. Kita bisa menggunakan kreativitas dalam mengembangkan aplikasi ini.
Saya rasa perangkat lunak open source ini sangat cocok di dikembangkan di Buleleng dimana masyarakatnya memiliki jiwa kreativitas tinggi.
Jadi mari hargai hak kekayaan intelektual dan menjadi kreatif dengan open source !!!…..
Makan dan berDoa dengan Cinta
“We search for happiness everywhere, but we are like Tolstoy’s fabled beggar who spent his life sitting on a pot of gold, under him the whole time. Your treasure–your perfection–is within you already. But to claim it, you must leave the buy commotion of the mind and abandon the desires of the ego and enter into the silence of the heart.”
Tulisan ini dikutip dari buku Eat, Pray, Love karya Elizabateth Gilbert yang terkenal itu. Seseorang meminjamkan buku itu kepada saya kemarin. Buku ini sudah diterbitkan sekitar 6 (enam) tahun silam. Kalau makanan ternak mungkin sudah kadalwarsa. Untunglah ini sebuah buku. Jadi tidak ada masa aktif maupun masa tenggangnya. ah kok jadi ngelantur….
Buku yang saya baca ini masih dalam bahasa aslinya. Soalnya saya kurang bisa menikmati sebuah karya sastra yang sudah diterjemahkan. Sepertinya ada yang kurang. Walaupun bukan kurang ajar. Humor seperti bahasa inggris dengan logat Ubudnya Ketut Liyer itu tidak akan lucu lagi ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Menurut saya buku ini menarik. Bukan saja karena buku ini diangkat ke layar lebar dan fenomenal karena filmnya dibintangi oleh artis cantik bernama Julia Robert. Menarik karena bernuansa spiritual. Spiritualitas ala timur.
Saya sependapat dengan ide bahwa pulau Bali itu merupakan “keseimbangan” . Keseimbangan (balance) antara kesenangan duniawi maupun spiritual. Memang kalau di perhatikan pulau Bali yang dikenal dengan pulau Dewata ini merupakan tempat yang kaya dengan spiritual. Banyak tempat diyakini memiliki aura kesucian yang disukai oleh penekun spiritual. Saat ini di berbagai tempat di Bali juga tumbuh banyak Asrham tempat belajar yoga dan meditasi. Singkatnya Bali merupakan pulau spiritual, religius dan mistis.
Sementara dari sisi duniawi, pulau Bali memiliki banyak tempat yang asik dikunjungi. Kuta menawarkan hiburan malam sampai pagi.
Ah betapa beruntungnya kita eh saya hidup di pulau ini…
Propaganda Ala Zeitgeist
Ceritanya saat ini saya lagi suka dengan film yang berbau propaganda maupun konspirasi. Sebuah tontonan yang bukan sekedar hiburan layaknya film – film Indonesia maupun film Korea itu. Tontonan yang membuat saya berfikir. Tontonan yang agak berat.
Dari hasil guugling, saya menemukan sebuah film yang cukup mewakili kriteria diatas. Sebuah film tentang teori konspirasi berjudul Zeitgeist : Addendum. Sekuel dari film dokumenter Zeitgeist : the Movie karya Peter Joseph.
Dalam film ini disajikan berbagai hal, mulai dari masalah ekonomi, politik, teknologi maupun spiritualitas dari sudut pandang yang berbeda.
Satu hal yang menarik disini adalah film ini dibuka oleh kutipan dari salah satu tokoh yang memang saya suka pemikirannya, yaitu J. Krisnamurthi.
Apabila sodara – sodara ingin menyaksikan langsung, silahkan download disini dan subtitle bahasa Indonesianya disini jika anda mengalami kesulitan dalam hal listening bahasa linggis.


